ISLAM NUSANTARA DALAM TILIKAN ORGANISASI NAHDLATUL WATHAN, LOMBOK, INDONESIA.

ISLAM NUSANTARA DALAM TILIKAN ORGANISASI NAHDLATUL WATHAN, LOMBOK, INDONESIA.

Oleh: Dr. H.Fahrurrozi Dahlan, MA
[Sekretaris Pengurus Wilayah NW NTB, Sekretaris MUI NTB,
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Mataram,
[E-mail:roziqiiain@yahoo.co.id-fahrurrozidahlan@gmail.com]

ABSTRAK
Diskursus tentang Islam Nusantara sejatinya telah memberi ruang dalam disiplin sejarah, arkeologi, antropologi, studi agama, hingga dinamika Politik. Studi lintas disiplin keilmuan inilah yang akan membentuk formasi pengetahuan dan landasan ontologi dan epistemologi agar kerangka konseptual Islam Nusantara dapat dipahami dan diformulasikan.
Organisasi Nahdlatul Wathan sebuah Organisasi kemasyarakatan Islam yang mengambil zona geografis di wilayah Nusantara. Maka Islam ala Nahdlatul Wathan adalah perjuangan dan pengumulan dialektika keagamaan dalam wajah Islam Nusantara yang akomodatif terhadap realitas tanah air (al-waqaiyyahal-wathaniyah).
Paling tidak Nahdlatul Wathan melalui Pendirinya telah menegaskan istilah tentang Islam se- Nusantara, dikembangkan di Nusantara,di Nusantara dan Luar Negeri, Berpesta pora di Nusantara dan Memancar sinar di Nusantara, sebagai landasan bahwa Islam Nusantara secara konseptual menerangkan tentang Islam kawasan, mengingat NW lahir di kawasan Nusantara maka dapat dipahami sebagai pemahaman keislaman yang adaptif dengan realias sosial kemasyarakatan masyarakat Nusantara.
Organisasi Nahdlatul Wathan dapat berkembang di Nusantara sedikit banyak dipengaruhi oleh ideologi dan asas organisasi yang dianutnya, yaitu ideologi ahl sunnah wal jamaah berupa anutan fiqih syafi’iiyah dalam syariah, teologi As’ariah dan Maturidiyah dan Ghazali dan Junaidi al-Baghdady dalam anutan sufistik.

Kata Kunci: Islam, Nusantara, Adaptasi, Bid’ah, Inovasi, Konstruksi, Dinamika, Aswaja. Perbedaan, Persamaan. Ciri Khas, Multikultural.

A. Pendahuluan
Pemahaman tentang formulasi Islam Nusantara menjadi penting untuk memetakan Islam di Indonesia. Islam Nusantara dimaksudkan sebagai sebuah pemahaman keIslaman yang bergumul, berdialog, dan menyatu dengan kebudayaan Nusantara dengan melalui proses seleksi, akulturasi dan adaptasi.
Islam Nusantara sebagai manhaj atau model beragama yang harus senantiasa diperjuangkan untuk masa depan peradaban Indonesia dan dunia. Islam Nusantara, Islam yang ramah, terbuka, inklusif dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara yang beragam. Islam bukan hanya cocok diterima di Nusantara, tapi juga pantas mewarnai budaya Nusantara untuk mewujudkan sifat akomudatifnya yakni rahmatan lil alamin.
Bentuk operasionalisasi Islam Nusantara adalah proses perwujudan nilai-nilai Islam melalui bentuk budaya lokal. Dalam tataran praksisnya, membangun Islam Nusantara adalah menyusupkan nilai-nilai Islami di dalam budaya lokal atau mengambil nilai Islami untuk memperkaya budaya lokal tersebut atau menyaring budaya agar sesuai nilai Islam. Pada titik inilah kajian-kajian tentang Islam Nusantara, masa lalu, kini dan mendatang perlu dipahami sebagai formasi pengetahuan yang saling terkait. Islam Nusantara dengan beberapa karakteristiknya tentu sangat berbeda dengan Islam di tempat lain meskipun substansinya sama-sama tradisi merupakan domain Islam historis, maka pelacakannya tidak melulu atas teks kitab suci melainkan lebih pada proses- proses pemahaman, penafsiran, dan hingga akhirnya penerapan ajaran teks itu dalam sejarah yang telah membentuk suatu tradisi yang bervariasi.
Meneguhkan Islam Nusantara dimaksudkan untuk memperkukuh dan upaya terus menerus menemukan (invention), meranifikasi, merekonsiliasi, mengomunikasikan, menganyam dan menghasilkan kontruksi-konstruksi baru (inovation).

B. Landasan Normatif Islam Nusantara Ala Nahdlatul Wathan
Istilah Islam se-Nusantara atau Islam Nusantara telah dipopulerkan oleh pendiri NWDI, NBDI dan NW. TGKH. M. Zainudiin Abdul Madjid sekitar 82 tahun yang lalu. Ini termaktub dalam karya Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru disebut 5 Kali. NW itu: Nusantara Wathany Nusantara adalah tanah airku, Maka NW lahir dan besar berdasarkan realitas masyarakat yang bukan masyarakat Arab, bukan pula masyarakat Eropa. Maka NW menegaskan diri sebagai pewarna terhadap warna-warni budaya dan tradisi masyarakat Nusantara, Khususnya Lombok. Dengan demikian Islam se-Nusantara ala NW memiliki kekhasan sendiri dengan yang lain.
Aduh sayang!
Nahdlatul Wathan ciptaan ayahda
Ku amanatkan kepada anakda
Dipelihara dan terus dibina
Dan dikembangkan di Nusantara.
Penyebaran organisasi NW di berbagai provinsi di seluruh Indonesia yang saat ini telah mencapai lebih 1000 buah lembaga pendidikan yang tersebar di 24 Provinsi di Indonesia.
Pertama di Pulau Sulawesi. Penyebaran Organisasi NW Pulau menyebar di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat. Dapat dicontohkan lembaga pendidikan yang tersebar di pulau Sulawesi Tenggara antara lain: Pondok Pesantren Darul Ulum NW Bima Maroa-Andolo Barat Konawe Selatan Sultra di bawah pimpinan Ust Jamhuri Karim, QH, S.Sos.I. Pondok Pesantren Majmaul Muhajirin NW Rahamenda- Kecamatan Bukek Konawe Selatan pimpinan Ust Jumiroh, QH., S.Sos.I. Pondok Pesantren Birrul Walidain NW Anahinunu Kec. Amonggedo Kabupaten Konawe Pimpinan Ust. Fatroni, QH.,S.Pd.I. Pondok Pesantren Khairussunan NW Marga Jaya Kecamatan Rorowatu Utara Kabupaten Bombana Pimpinan Ust.Rasiman, QH. SE. Begitu juga Penyebaran Organisasi NW di Sulawesi Selatan antara lain Pondok Pesantren Shohifatusshofa NW Ramawangun Kabupaten Luwu Utara Pimpinan Ust. Maliki al-Wathani, QH., S.Pd.I. Sedangkan Penyebaran Organisasi NW di Provinsi Sulawesi Tengah seperti Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin NW Pasir Lamba Kabupaten Luwuk Banggai Sulawesi Tengah, Pimpinan Ust. Muhtasam,QH., S.Pd.I.,M.Pd.I. Pondok Pesantren AL-Mujahidin NW Mantadulu Kabupaten Luwu Timur Pimpinan Ust. Rusdan,.QH.S.Ag. Pondok Pesantren Hikmatul Husna NW Luwuk Baggai Pimpinan Ust. Sam’an Husni, QH., S.Pd.I. Pondok Pesantren AL-Amin NW Morowali. Untuk Penyebaran NW Provinsi Gorontalo terdapat lembaga pendidikan sekaligus majelis dakwah dan sosial berupa Pondok Pesantren Kharul Fatihin NW, Bualemo, Gorontalo, dan Pondok Pesantren Birrul Walidain NW, Marisa 2, Pahuato, Gorontalo.
Kedua: Penyebaran Organisasi NW Pulau Jawa
Penyebaran dan pelebaran sayap perjuangan Organisasi Nahdlatul Wathan terus merambah di setiap kabupaten dan kota yang ada di setiap pulau di Indonesia. Penghuni Padat penduduk seperti pulau Jawa Organisasi terkonsentari di Jakarta seperti Pondok Pesantren Hamzanwadi NW Jakarta yang berdiri sejak tahun 1980-an kemudian menyebar ke provinsi Banten, ada Pondok Pesantren Asshaulatiyyah NW Tanggerang. Sementara di Jawa Barat dapat ditemukan lembaga pendidikan Pondok Pesantren Nahdlaatul Wathan Subang Jawa Barat, Pondok Pesantren Nurul Haramaîn Jawa Barat.
Ketiga: Penyebaran Organisasi Nahdlatul Wathan di Pulau Kalimantan.
Penyebaran Organisasi NW dalam aspek Pendidikan sosial dan Dakwahnya, hampir merata di seluruh Provinsi yang ada di Pulau Kalimantan. ada beberapa lembaga pendidikan yang tersebar di Pulau Kalimantan, seperti Pondok Pesantren Aminul Quthbi, Ambalut, Kukar, MI, al-Hasaniyah, L3 Blok C- Kukar, Pondok Pesantren AL-Ikhlas NW Sambera, Kukar, Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nw, Padang Pengerak, Pasir Utara, Madrasah Diniyah Nurul Bilad NW, Kutai Timur. MI al-Mujahiddah Hj.Sitti Raihanun ZAM, Bantuas, Samarinda, SMP Islam Syaikh Zainuddin NW, Sampit, MTS Arrahmah NW, Bulungan, Kaltara, Pondok Pesantren Hidayatusalam NW (MI.MTs., MA) Sungai Danau, MTS. Nurulwaton NW, Kab.Tanah Bumbu, MA. Nurulwathon NW, Kab.Tanah Bumbu, MTS. al-Istiqâmah NW, Kab.Tanah Bumbu, MTS. Nurul Jihad NW, Kab.Tanah Bumbu, MTS. Darul Ishlah NW, Kab.Tanah Bumbu,MTS Hidayatussalam NW, Sungai Loban, Ponpes Syaikh Zainuddin NW, L3, Kutai Kerta Negara, mengelola lembaga pendidikan dari TK – Madrasah Aliyah.
Sedangkan Penyebaran NW di Pulau Batam ditemukan beberapa lembaga seperti Pondok Pesantren Nahdatul Wathan Sekupang Batam, Pondok Pesantren Al-Fansyuri NW Batam.
Keempat: Penyebaran NW di Pulau Papua.
Penyebaran Organisasi Nahdlatul Wathan di pulau Papua masih sangat terbatas hanya satu lembaga pendidikan yang dirintis di daerah Timika, sebuah lembaga formal dan informal yang didirikan oleh kader Nahdlatul Wathan sekitar tahun 2000. Meskipun secara formal kelembagaan belum banyak di Papua, namun para kader-kader NW telah menyebar mendakwahkan Islam damai di tengah-tengah pluralitas ummat.
Kelima: Penyebaran NW di NTT.
Ada beberapa titik lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan yang tersebar di pulau yang mayoritas penduduknya Kristen. Hampir merata di NTT penyebaran sayap pendidikan karena kader-kader yang berasal dari NTT terhitung banyak sekali sejak tahun 1990-an siswa. Mahasiswa banyak menuntut ilmu di tanah kelahiran NW di Pancor dan Tempat pengembangan organisasi NW di Anjani Lombok Timur. Banyaknya alumni-alumni Nahdlatul Wathan dari Pulau NTT, tentu memberikan dampak positif terhadap pengembangan ajaran agama atau dakwah islamiyah di mana para kader NW berkifrah.
Keenam: Penyebaran NW di Bali
Pulau dewata dengan kekhasannya tidak luput dari kifrah organisasi Nahdlatul Wathan dalam mengembangkan misi Islam rahmatan li al-âlamîn, Islam Nusantara yang menghargai budaya dan kearifan lokal. Di Pulau Bali, dapat disebutkan bahwa Organisasi Nahdlatul Wathan telah berkifrah mulai dari Singaraja dengan didirikannya madrasah-madrasah NW di Singaraja, terus di Tabanan terdapat juga madrasah NW yang dirintis oleh alumni-alumni Ma’had Darul Qur’an wa Al-hadits, begitu juga di Karang Asem ada lembaga pendidikan dan sosial yang didirikan oleh para abituren NW.

Aduh Sayang!
Siarkan Hizib sampai merata
Agar banyaklah pendo’a kita
Mendo’a Negara, Nusa dan Bangsa
Mendo’a Islam se- Nusantara.

Aduh sayang!
Ayahda tabligh di malam sunyi
Hadapi lautan, makhluk insani
Agar tersebar ajaran ilahi
di Nusantara dan Luar Negeri (w. No. 218)

Aduh sayang!
Duplikat Ngampel dan Kalijaga
Berlaku lebih tiga bulan nyata
Memancar sinar di Nusantara
Menghidupkan Iman bersinar Taqwa (W. No. 203)

Aduh sayang!
Sekian Wasiat Renungan masa
pengalamanku sekian lama
khususnya setelah bersandiwara
Berpesta pora di Nusantara (W. No. 227)

Penting untuk dicermati selogan organisasi Nahdlatul Wathan yang dicetuskan lansung oleh Maulanassyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid yang berbunyi: Turahhibu bi al-hadîts wa tahtarimu al-qadîma wa tarbitu bainahumâ. Selogan Nahdlatul Wathan menyambut yang baru (inovasi)-menghormati yang lama (refleksi tradisi) dan mengikat dan menghubungkan keduanya (moderasi). Selogan ini sejalan dengan selogan yang dipopulerkan oleh Organisasi Nahdlatul Ulama, al-Muhâfazhah alâ al-Qadîm al-Shâleh wa al-Akhzu bi al-Jadîd al-Ashlah.
Berdasarkan statemen Maulanasyaikh di atas. Nahdlatul Wathan menegasikan kekhasannya pada 4 pilar pemikiran (arba’ afkâr). Pertama: fikrah nahdhiyyah (pemikiran kebangkitan) yang mencakup nahdhah tarbawiyyah [kebangkitan] nahdhah ijtimâiyyah [kebangkitan sosial] nahdlah dakwatiyah [kebangkitan dakwah]. Kedua: fikrah wathaniyah: pemikiran kebangsaan; Pemikiran ke-Indonesia-an dengan istilah Bilâdy,Indunisiyya, Wathâny. Tersebut dalam untaian lagu-lagu karya Maulanassyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid. Kemudian pemikiran ke-Sasak-an primordialisme kesukuan untuk mempertegas identitas dan asal pijakan peradabannya semisal Anti yâ Fancûr bilâdy, Ya fata Sasak bi Indonesia. Ketiga: fikrah siyâsiyah, pergolakan politik kebangsaan pemikiran kemerdekaan, pemikiran politik demokrasi Pancasila. Ini terlihat dalam dialektika dinamika politik Maulanassyaikh (1955-1997). Keempat: fikrah diniyyah islamiyyah mencakup aqidah dipilih ahl al-sunnah wa al-jamâah, teologi Asy’ariyyah dan dimensi syariah dipilih mazhab al-Imam al-Syafii sedangkan tasawuf dipilih oleh Organisasi Nahdlatul Wathan adalah Junaidal-Baghdady dan al-Imam al-Ghazali. Dengan demikian Organisasi Nahdhatul Wathan sesungguhnya bergerak dalam ranah: rabbaniyah, nabawiyyah, insaniyah, ummatiyah, kauniyah, alamiyah yang dikemas dalam bingkai Washatiyah Islam (moderat).
Dalam kaitannya dengan tema artikel ini, penulis lebih menfokuskan ke bagian fikrah diniyyah islamiyah yang dianut oleh Organisasi Nahdlatul Wathan, yang di dalamnya mencakup tentang Islam Nusantara yang disebutkan dalam Wasiat Renungan Masa.
Urgen untuk dipahami oleh warga besar Nahdhlatul Wathan bahwa dinamika dan dialektika Organisasi Nahdlatul Wathan terhadap perkembangan zaman terlihat dari pilihan pijakan teologi yang dianutnya. Ini terlihat dari perubahan-demi perubahan terhadap asas Nahdlatul Wathan.
Asas Nahdlatul Wathan berdasarkan mu’tamar 1 (22-24 Agustus 1954-Muktamar III (25-27 Januari 1960) adalah Organisasi Nahdlatul Wathan Berasaskan Islam dan Kekeluargaan. Asas Nahdlatul Wathan berubah menjadi Islam Ahl-Al-Sunnah wa al-Jama’ah ‘ala Madzhab al-Imam al-Syafi’i. Perubahan asasnya disebabkan karena Khittah perjuangan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah dan NBDI mengacu kepada konsep ASWAJA yang dianut mayoritas muslim.
Pertanyaan akademiknya kemudian adalah Siapa ahl Sunnah Nahdlatul Wathan? Pertama: tentu orang yang tetap berada dalam sunnah (tradisi) Ke-Nahdhatulwathan-an) Orang yang selalu setia dalam tradisi kesunnahan Nahdhatul Wathan. Kedua: Orang yang berada dalam Khittah perjuangan Nahdlatul Wathan yang populer dengan Konsep Li i’laa’i Kalimatillah wa Izzi al-Islam wa al-Muslimin. Ketiga: Ahl al-sunnah Nahdlatul Wathan merupakan Orang yang menjalankan amanah dalam semua elemen perjuangan Nahdlatul Wathan. Keempat: Ahl Sunnah Nahdlatul Wathan adalah Orang yang selalu teguh dalam menjalankan prinsip ke- Nahdlatul Wathan-annya. Kelima: Ahl Sunnah Nahdlatul Wathan: Selalu berpikir inovatif, produktif dan furutistik dalam kerangka pengembangan Nahdlatul Wathan yang progresif tentu dalam bingkai al-sunnah al-Nahdhiyyah.
Adapun konsep al-Jama’ah Nahdhatul Wathan merupakan kelompok besar, kelompok mayoritas, kelompok yang solid, kelompok yang bersatu padu. al-jama’ah Nahdlatul Wathan tidak akan bisa lepas dari Jam’iyyah Nahdlatul Wathan: Organisasi Nahdlatul Wathan. Jadi, Jamaah Nahdlatul Wathan Berarti kelompok masyarakat yang masuk dalam nakhoda organisasi Nahdlatul Wathan yang memiliki visi, misi dan tujuan yang sama untuk mengembangkan organisasi Nahdlatul Wathan. Dengan demikian, konsep Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jamaah Nahdhatul Wathan berarti orang-orang yang berpegang teguh secara konsekuen apa yang telah disunnahkan dalam organisasi Nahdlatul Wathan yang dijalankan berdasarkan kesepakatan mayoritas untuk mengembangkan organisasi menuju organisasi yang progresif dan responsif.
Maulanasyyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid menegaskan secara lansung tentang geneaologi keilmuaan ke-Aswaja-an Nahdlatul Wathan melalui Guru dari guru-guru Maulanasyaikh bernama Assyaikh Yusuf an-Nabhani seorang tokoh ulama ahl al-sunnah wa al-jamaah, ahli pengarang berbagai Ilmu Agama yang sangat masyhur (wafat tahun 1350 H). Beliau dalam kalangan Ulama Ahl al-sunnah wa al-Jamaah terkenal dengan julukan (gelar) Sya’airurasûlillâh SAW dan Khadimussunnah, karena terlalu banyak karangan beliau dalam ilmu madih nabawi dan hadist membela ahl al-sunnah wa al-jamaah membongkar rahasia ahlil bid’ati wa al-dhalalah.
Syaikh Yusuf An-Nabhani menjelaskan dalam kitabnya “Arroiatush Shugro” antara lain beliau berkata: bahwa yang dimaksud dengan kalimat ahl al-sunnah wa al-jamaah dalam istilah/’uruf ‘ulama/fuqaha’ Islam dari sejak lebih dari 1000 (Seribu) tahun adalah mereka yang bermazhab dengan salah satu dari mazhab empat yang terkenal itu dan mereka yang tidak bermazhab (keluar dari mazhab) tidak dinamakan “ahl al-sunnah wa al-jamaah” dan tidak seorangpun yang keluar dari mazhab empat melainkan kaum pembela hawa nafsu/ahli bid’ah. Nah, demikianlah ringkasan maksud uraian Syaikh Yusuf an-Nabhani ini dibenarkan oleh ulama’-ulama (tokoh-tokoh utama) yang tersebut namanya di atas tadi dan lain-lain. Karena siapa yang ingin mengetahui persoalan ahl al-sunnah wal jamaah hendaklah mengambil dari sumbernya yang asli yang masih jernih tak pernah dicampuradukkan dengan politik ala jiwa ghairil islam seperti karangan-karangan Allâmah an-Nabhâni tersebut, karangan-karangan imam al-Fuqaha’ wa al-Muhadditisin al-Allamah Asyyaikh Taqiuddin Assubki yang terkenal itu dan karangan-karangan guru dari guru-guru kami al-Imamul Allamah al-Muhaddits al-Faqih Asshufi Asysyaikh Salamah al-‘Azâmi Assyâfi’i (pengarang “Barâhinul Kitâb wa Sunnah) dan karangan-karangan guru dari guru-guru kami al-Imamul Muhadits al-Bahhâtsah al-Allâmah Assyaikh Muhammad Zahid al-Kautsâri (pengarang kitab Al-Isyfaq ‘ala Ahkami al-Thalâq”) terutama pada akhir-akhir ini karangan al-Allimatul guyur Gazali Zamanih Assyaikh Yusuf Addajawi (pengarang “Tanbihul Mu’minin li Mahâsin al-ddîn”) dan lain-lain dari pada Aimmatil Huda Radhialaahu Anhum.

C. Distingsi Islam Nusantara Nahdlatul Wathan dan Islam Nusantara Organisasi Nahdlatul Ulama
Penting untuk dipetakan Islam Nusantara ala NW dengan Islam Nusantara ala Nahdhatul Ulama, guna menemukan persamaan sekaligus perbedaan antara dua organisasi kemasyarakatan, selanjutnya mencari benang merah persamaan dan perbedaan keduanya.
Pertama: Secara Konsep keagamaan Organisasi NW mengambil selogan Turahhibu bi al-Hadîts wa Tahtarimu al-Qadîma wa Tarbitu bainahumâ: al-Tarhîb (Menyambut)- al-Tarhîm (menghormati)-al-Irtibâth (Mengikat-Mengakomodir), Sementara Nahdlatul Ulama mempopulerkan selogan al-Muhâfazhatu ala al-Qadîm al-Shâleh wa al-Akhzu bi al-Jadîd al-Ashlah. al-Muhâfazhah: Menjaga al-Akhzu: Mengadopsi-mengambil.
Kedua: Ideologi Ahlussunnah wal Jamaah NW- Ahlussunnah wal Jamaah (ASWAJA) NU
Ketiga: Mazhab anutan Fiqih Syafiiyyah NW- Mazhâhib al-arba’ah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali)
Keempat: Nahdlatul Wathan mengambil posisi dalam aspek teologis menganut faham As’ariyah dan Maturidiyah, yang juga sama posisinya diambil oleh Organisasi Nahdlatul Ulama’.
Kelima: Tasawuf al-Junaid al-Bagdadi dan al-Ghazali,
Keenam: Prinsip Khusus Nahdlatul Wathan: Sami’na wa Atho’na, al-Tarahum, al-Tarabbuth, al-Tasammu’, Sedangkan prinsip Khusus Nahdlatul Ulama adalah; al-Tawâsuth, al- I’tidâl, al-Tawâzun, al-Tasâmuh, Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Ketujuh: NWDI-NBDI-NW: Gerakan Kemadrasahan-Gerakan Kultural-Gerakan Kebangsaan.- Gerakan Politik-gerakan kepesantrenan-Gerakan Keagamaan-Kegerakan Kebangsaaan.
Kedelapan: Tidak berafiliasi Partai Politik(Pendidikan, Sosial, dan Dakwah)-NU: Gerakan Politik-gerakan kepesantrenan-Gerakan Keagamaan-Kegerakan -Kebangsaaan.
Kesembilan: Trilogi Perjuangan NW: Yaqin, Ikhlas, Istiqomah.-
Kesepuluh: Trilogi Pergerakan NW: Pendidikan, Sosial, dan Dakwah Islamiyah-
Kesebelas: Trilogi Ideologi NW: Iman, Islam dan Ihsan-
Keduabelas: Baiat perjuangan- Sumpah dan Baiat Organisasi,
Ketigabelas: Identitas Ke-NW-an- Identitas ke-Aswaja Annahdhiyyah- (ke-NU-an)
Keempatbelas: Genealogi Keilmuan berpusat di Haramain- Madrasah Asshaulatiyah
Kelimabelas: NW Lahir di Pusat Kerajaan (respon terhadap primordialisme dan strata sosial (Kerajaan Selaparang)- NU: NU lahir di Pusat Kerajaan Jawa-Kresidenan- NU: NU lahir di Pusat Kerajaan Jawa-Kresidenan.
Keenambelas: NW Berhizib dan Bersyafa’ah- NU Ber-Istighotsah- dan Ratibaan
Ketujuhbelas: NW Moderat-Islam Wasathiyah- NU Islam Wasathiyyah; Rahmatan Lil alamiin.
Tujuan Organisasi NW: Lii’lâi kalimatillah wa izzil Islam wal muslimin
Trilogi Ukhuwwah ala NW: Ukhuwwah Islamiyah-Ukhuwwah Wathaniyah-Ukhuwwah Basyariyah dan Ukhuwwah Nahdhiyyah- NU: Trilogi Ukhuwwah ala NU: Ukhuwwah Insaniyah-Islamiyah-Basyariyah.
Kajian Kitab Kuning (Turâst al-Islâmy)- Kajian Kitab Kuning (Turâst al-Islâmy)
Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 Menjada NKRI, dan Bhineka Tunggal Eka (Kebhinekaan)- Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 Menjada NKRI, dan Bhineka Tunggal Eka (Kebhinekaan).
Sebutan Khas NW: Maulanassyaikh-Tuan Guru- Sebutan Kehormatan: Hadratussyaikh, Kyai-Syaikhuna.

ISLAM NUSANTARA ALA NAHDLATUL WATHAN DAN ISLAM NUSANTARA ALA NAHDLATUL ULAMA
1 Turahhibu bi al-Hadîts wa Tahtarimu al-Qadîma wa Tarbitu bainahumâ:
al-Tarhîb (Menyambut)- al-Tarhîm (menghormati)-al-Irtibâth (Mengikat-Mengakomodir) al-Muhâfazhatu ala al-Qadîm al-Shâleh wa al-Akhzu bi al-Jadîd al-Ashlah.
al-Muhâfazhah: Menjaga
al-Akhzu: Mengadopsi-mengambil
2 Ideologi Ahl al-sunnah wa al-Jamaah Ahlu al-sunnah wa al-Jamaah (ASWAJA)
3 Mazhab anutan Fiqih Syafiiyyah Mazhâhib al-arba’ah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali)
4 Teologi As’ariyah dan Maturidiyah Teologi As’ariyah dan Maturidiyah
5 Tasawuf al-Junaid al-Bagdadi dan al-Ghazali Tasawuf al-Junaidi dan al-Ghazali
6 Prinsip Khusus Nahdlatul Wathan: Sami’na wa Atho’na, al-Tarahum, al-Tarabbuth, al-Tasammu’ Prinsip Khusus NU: al-Tawâsuth, al- I’tidâl, al-Tawâzun, al-Tasâmuh, Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
7 NWDI-NBDI-NW: Gerakan Kemadrasahan-Gerakan Kultural-Gerakan Kebangsaan. Gerakan Politik-gerakan kepesantrenan-Gerakan Keagamaan-Kegerakan Kebangsaaan.
8 Tidak berafiliasi Partai Politik.
(Pendidikan, Sosial, dan Dakwah) Pernah Menjadi Partai Politik- Berapiliasi partai Politik dan
Kembali ke-Khittah 1986.
9 Trilogi Perjuangan NW: Yaqin, Ikhlas, Istiqomah.
10 Trilogi Pergerakan NW: Pendidikan, Sosial, dan Dakwah Islamiyah
11 Trilogi Ideologi NW: Iman, Islam dan Ihsan
12 Baiat perjuangan- Sumpah dan Baiat Organisasi Baiat dalam Tradisi Thariqah tidak dalam organisasi NU
13 Identitas Ke-NW-an Identitas ke-Aswaja Annahdhiyyah- (ke-NU-an)
14 Genealogi Keilmuan berpusat di Haramain- Madrasah Asshaulatiyah Genealogi Keilmuan berpusat di Haramain- Madrasah al-Shaulatiyah
15 NW Lahir di Pusat Kerajaan (respon terhadap primordialisme dan strata sosial (Kerajaan Selaparang) NU lahir di Pusat Kerajaan Jawa-Kresidenan
16 NW Berhizib dan Bersyafa’ah NU Ber-Istighâtsah- dan Ratibaan
17 NW Moderat-Islam Wasathiyah NU Islam Wasathiyyah; Rahmatan Li al-âlamîn.
18 Tujuan Organisasi NW: Lii’lâi kalimatillah wa izzil Islam wal muslimin NU:
19 Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 Menjada NKRI, dan Bhineka Tunggal Eka (Kebhinekaan) Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 Menjada NKRI, dan Bhineka Tunggal Eka (Kebhinekaan)
20 Trilogi Ukhuwwah ala NW: Ukhuwwah Islamiyah-Ukhuwwah Wathaniyah-Ukhuwwah Basyariyah dan Ukhuwwah Nahdhiyyah Trilogi Ukhuwwah ala NU: Ukhuwwah Insaniyah-Islamiyah-Basyariyah.
21 Kajian Kitab Kuning (Turâst al-Islâmy) Kajian Kitab Kuning (Turâst al-Islâmy)
22 Sebutan Khas NW: Maulanassyaikh-Tuan Guru Sebutan Kehormatan: Hadratussyaikh, Kyai-Syaikhuna
23 Amaliyah NW: amalan wirid-wirid khusus-Ilmu-Ilmu Hikmah, Ijazah-ijazah Doa, Ijazah. Amaliyah Nahdhiyyah: Zikir berjamaah, Shalawatan, Ziarahan, Syukuran, Haulan, dll.
24 Fatwa NW melalui dewan musytasyar PB NW Komisi Bahstul Masâil Fiqhiyyah dalam setiap event muktamar dan even musyawarah NU.
25 Muktamar Nahdlatul Wathan- Musyawarah- Konferensi- Forum-Ikatan, dll. Muktamar NU-Musyawarah-Konferensi-Forum- Ikatan- dll
26 Tradisi NW: Tawassul- Zikir Jahar- Ziarah Kubur- Maulidan-Srakalan- Shalawat, Hiziban, Roahan dan Sarungan dan Jubahan, Imamahan. Tradisi NU: Tawassul- Diba’an- Shalawatan Badar, Istigâtsah, Brazanjian, baju koko (taqwa) sarungan dan Jubahan.
27 Identitas Pesantren: Pesantren NW- Yayasan Perguruan NW-Yayasan Pendidikan NW- Madrasah NW Identitas: al-Maarif, Berapiliasi NU.
Diambil dari berbagai sumber:

D. Karakteristik Islam Nusantara Ala Organisasi NW

Fiqh Tradisi
Ke-ASWAJA-an Nahdlatul Wathan telah dan terus mengepakkan sayap perjuangannya untuk memajukan peradaban bangsa dan agama. Kini Nahdlatul Wathan Telah berkontribusi untuk memajukan peradaban kemanusiaan melalui tiga gerak langkah pokok; Pendidikan, Sosial, dan Dakwah. Pendidikan yang telah dirintis dan terus dikembangkan oleh organisasi Nahdlatul Wathan telah mencapai Lebih dari 1245 lembaga pendidikan yang menyebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia tepatnya 24 Provinsi di Indonesia. Nahdlatul Wathan dengan nama yang disandangnya menunjukkan identitas dirinya, sebagai organisasi yang semakna dengan; pergerakan kebangsaan, pembangunan tanah air, pembelaan terhadap nasionalisme, pergumulan sosial, perkumpulan primordialisme, dan banyak arti lain yang bisa diinterpretasikan untuk sebuah mana dari Nahdlatul Wathan. Pendiri organisasi ini memiliki semangat yang tinggi dan semangat nasionalisme yang kuat untuk terus membangun negara dan bangsanya dengan tidak melabelkan nama Islam dalam organisasi yang didirikannya.Kecerdasan dan kebesaran jiwa bagi sosok TGKH.M.Zainuddin memutuskan nama organisasi yang dibangunnya menjadi Nahdltul Wathan sebagai representasi keimanan untuk bergerak dalam wilayah yang sangat universal, bukan saja aspek Agama tapi lebih dari itu negara dan semangat kebangsaan.Organisasi yang didirikannya telah menempuh waktu 64 tahun, sejak berdirinya pada tahun 1953, sehingga Nahdlatul Wathan sebagai organisasi keagamaan yang terbesar di NTB dan menyebar ke 24 Provinsi di Indonesia, telah banyak berkontribusi terhadap penataan tatanan keagamaan masyarakat Indonesia di mana saja Nahdlatul Wathan berkifrah. Nahdlatul Wathan yang secara embrional diawali dengan dua madrasah induk yaitu Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah didirikan pada tahun 22 Agustus 1937 M, NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah) didirikan pada 21 April 1942 M, telah mengalami sejarah panjang dan telah melewati 3 zaman (zaman penjajahan, orde lama, orde baru dan era reformasi). Membuktikan bahwa Nahdlatul Wathan adalah organisasi yang memiliki kontribusi yang strategis dan fungsional dalam menata keberagaman dan keberagamaan masyarakat Indonesia untuk meneguhkan washatiyyah Islam, dan Islam Nusantara yang berkeadaban dan berkemajuan.
Berangkat dari pilihan teologis Nahdlatul Wathan ahl al-Sunnah wa al-Jamaah memberikan dampak yang strategis terhadap dinamika pemahaman dan pengalaman praktek keagamaan masyarakat. Dengan ke-Aswaja-an Nahdlatul Wathan terlihat integrasi intekoneksi dan adaptasi teologis terhadap zaman yang mengitarinya, tidak pada posisi membid’ahkan, meng-kafirkan budaya dan tradisi, justru diakomudasi dan dikonstruksi menjadi sesuatu yang relevan dengan konteks kekiniaan. Dapat dicontohkan dari dampak ke-Aswaja-an Nahdlatul Wathan terhadap praktek keagamaan masyarakat Islam Lombok, antara lain:
1). Ada tradisi yang dikembangkan oleh pendiri Nahdlatul Wathan TGKH.M.Zaenuddin AM yang tidak lazim dilakukan oleh tuan guru-tuan guru yang lain yaitu tradisi melontar dengan uang di saat akan berakhirnya pengajian yang dipimpin lansung oleh Maulanassyaikh atau wakil beliau. Tradisi ini substansinya adalah mengajak masyarakat secara sukarela mengeluarkan harta yang dimilikinya berupa uang dari uang logam 50 rupiah sampai ribuan rupiah.
2). Tradisi membaca hizib memang merupakan kebiasaan yang banyak dijumpai di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah di manapun berada dan berlabel organisasi keagamaan apapun juga. Hizib-hizib sebenarnya adalah do’a-doa biasa, namun karena diciptakan oleh ulama terkenal maka menjadi terkenal dan disukai oleh banyak orang. Dalam kaitan ini hizib yang disusun oleh TGKH.M.Zainuddin AM adalah karya orisinil beliau, meskipun tentu saja, beliau mengutip banyak doa dari ulama terdahulu, disebut-sebut merupakan kumpulan doa-doa 70 auliya’. Hizib Nahdhatul Wathan lahir menjawab praktek-praktek keagamaan yang masih lekat dengan animisme, wetu telu, menjawab lelaka’-lelaka’ Sasak, belaka’, bekaya’, bebadean, pinjepanje, nyaer tak tentu nazham arudhnya. Hizib Nahdhatul Wathan mempertegas esensinya untuk mengkonstruksi budaya lokal yang relatif tidak cocok dengan konsep agama menuju perwujudan budaya lokal yang lebih relevan dengan ajaran agama. Hizib Nahdhatul Wathan cerminan kearifan lokal masyarakat Nusantara yang senang berkumpul bersama bersua, maka Sua yang paling efektif adalah Sua dalam Doa yang dibaca bersama dan berjamaah. Hizib Nahdhatul Wathan mempertegas misi Aswaja sebagai ideologi yang cocok untuk realitas Nusantara yang harus terus dilestarikan sepanjang masa. (ila yaumiddin).
3). Semangat Berulang Tahun: Hultah Nahdlatul Wathan. Istilah Hultah dipopulerkan oleh organisasi Nahdlatul Wathan yang semakna dengan istilah yang dipopulerkan oleh ormas-ormas Islam lainnya, seperti Milad, Harlah, Dies Natalies, Haul, dll. Kata hultah sebenarnya diambil dari bahasa Arab, Hâla, Yahûlu, Haûlan, yang berarti keadaan yang sudah sampai setahun, atau sesuatu yang genap setahun, kemudian ditambahkan dengan Ta’ mukhâtab, menjadi Hulta, yang berarti engkau merayakan hari yang ke setahun, kemudian ditambahkan Ha’ dhamir, kata ganti orang pertama tunggal menjadi Hultahu, diwakafkan menjadi Hultah. Referensi Ha’ itu ke yaum milad sehingga menjadi hultah, yang secara umum diartikan engkau merayakan hari kelahirannya. Istilah Hultah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah pertama kali dikenal pada ulang tahun Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah ke-15 pada tahun 1952. awalnya hanya berbentuk tasyakkuran, yang diisi dengan pengajian singkat dan diakhiri dengan acara makan bersama (begawe/begibung/-Bahasa Sasak). Dalam perkembangan selanjutnya, Hultah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah ini dijadikan sebagai acara pengajian tahunan pendirinya dan media silaturrahmi dan komunikasi antaralumni (abituren) dan jamah Nahdltul Wathan di seluruh Nusantara serta dihadiri oleh pejabat dari instansi pemerintah, baik lokal maupun nasional. Menurut pemahaman saya, peringatan Hultah dan istilahnya merupakan inovasi baru bagi organisasi Nahdlatul Wathan dalam membangun kesadaran dan semangat bersama dalam memperingati nilai-nilai perjuangan yang telah dirintis dan dikembangkan oleh Pendiri Nahdlatul Wathan, sehingga Hultah menjadi urgen jika dikemas sesuai dengan tuntutan awal diselenggarakan peringatan tahunan bagi warga Nahdlatul Wathan, dan ini membuktikan Nahdlatul Wathan memberikan sumbangsih yang tidak sedikit dalam bidang pengembangan sosial keagamaan di NTB ini.
4). Tradisi Syafâ’ah: Banyak istilah yang dikembangkan oleh organisasi lain seperti, Istighâsah, Ratiban, Zikiran, dan lain-lain. Tradisi ini sebetulnya telah dikembangkan oleh ulama’-ulama terdahulu, tapi yang berbeda mungkin masalah istilah yang dipergunakan. Kalangan masyarakat pesantren Nahdlatul Wathan istilah zikir yang dilakukan secara berjama’ah di saat pengajian, atau hajatan keluarga yang telah meninggal dunia, diistilahkan dengan syafa’ah dan istilah ini menurut hemat penulis, menjadi term sosial yang berkembang di NTB karena dikembangkan oleh Nahdlatul Wathan. Dengan demikian pengembangan sosial keagamaan dalam aspek-aspek tertentu sangat didomisasi oleh organisasi Nahdlatul Wathan.
5)Tradisi ijazah kitab (ijâzah al-kutub al-maqrû’ah). Salah satu tradisi aswaja Nahdlatul Wathan adalah tradisi ijazah kitab yang dibaca setiap hari di pondok pesantren, yang kemudian diijazahkan di akhir kegiatan pembelajaran. Biasanya ijazah kitab ini dilaksanakan saat pelepasan santri atau siswa-siswa saat tamat dari bangku sekolah. Tradisi ijazah kitab yang dilaksanakan di pondok pesantren Nahdlatul Wathan dengan tujuan pokok sebagai berikut:Pertama,tradisi ijazah ini dilakukan untuk tafâ’ulan dari isi kitab yang dibaca, agar ilmu yang diperolehnya menjadi berkah dan dapat diamalkan sepulang mereka nanti di tempat tinggal masing-masing.Kedua,ijazah kitab menjadi penanda silsilah keilmuan dan transmisi keilmuan dari guru ke murid, di mana guru yang mengajarkan kitab-kitab mu’tabarah tersebut telah menerima ijazah dari guru-guru mereka, sehingga silsilah atau mata rantai keilmuan mereka sampai kepada Rasulullah SAW. Ketiga, mempertegas genealogi keilmuan dari sang guru kepada murid. Guru memperteguh keilmuannya dengan ijazah yang diterima dari guru-gurunya berkat ijazah kitab tersebut. Keempat, ijazah kitab dilaksanakan dengan adanya ijab dan kabul dari guru ke murid, yang diawali dengan membaca salah satu kitab yang telah khatam dibaca, setelah selesai dibaca baru sang guru berucap, “Ajaztukum jamî’ al-kutub al-maqrû’ah.”(saya ijazahkan kitab-kitab yang dibaca tersebut)Lalu sang murid spontan menjawab,“Qabilnâ al-ijâzah,” atau “qabiltu al-ijâzah.” Inilah sesungguhnya identitas dan kekhasan ahl al-sunnah wa al-jamaah ala Organisasi Nahdlatul Wathan.
6). Tradisi membaca barzanjî dan dibâan. Pada komunitas pesantren di Lombok, membaca kitab al-Barzanjî menjadi rutinitas mingguan. Tradisi ini dilestarikan karena masyarakat sekitar pesantren atau masyarakat Sasak Lombok pada umumnya mengklaim bahwa indikator santri yang bisa difungsikan di tengah-tengah masyarakat jika mampu menghafal atau memimpin pembacaan kitab al-Barzanjî.
7). Tradisi ziarah makam ulama/tuan guru. Nahdlatul Wathan sangat identik dengan paham ahl sunnah wa al-jamaah, sehingga tradisi-tradisi ziarah makam merupakan suatu hal yang lumrah dikerjakan, guna mengingat keberkahan dan keilmuan ulama atau tuan guru yang diziarahi dapat mengalir kepada mereka. Tradisi ziarah ini tidak terlepas dari tradisi sufistik atau ahli sufi dalam menyambung keberkahan keilmuan dari guru-gurunya, seperti halnya saat gurunya masih hidup.
8).Tradisi silaturahmi pendidikan di pondok pesantren. Pondok pesantren yang berafiliasi ke Organisasi Nahdhatul Wathan dan Nahdlatul Ulama dalam setahun dapat melakukan tradisi silaturahmi pendidikan. Hal ini terlihat saat penerimaan santri baru di pondok pesantren, di mana santri dan seluruh wali santri bahkan masyarakat diundang untuk menghadiri acara silaturahmi pendidikan pondok pesantren. Urgensinya adalah untuk memberikan pemahaman, sekaligus memberikan orientasi kepondok pesantrenan agar semua elemen masyarakat memaklumi tugas dan fungsi pondok pesantren sebagai tempat untuk mencetak generasi bangsa.
Hal-hal tersebut di atas, yang penulis sebut dengan dialektika dan dinamisasi ke-Aswaja-an Nahdlatul Wathan yang peka terhadap realitis sosiologis dan antropologis masyarakat Islam. Nahdlatul Wathan menganggap bahwa dengan faham Aswaja yang menjadi anutan, justru memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk berinteraksi dengan budaya dan tradisi sembari berusaha mereformulasi sekaligus merekonstruksi budaya dan kearifan lokal tersebut menjadi suatu kemashlahatan bagi masyarakat Islam di NTB. Sisi inilah yang perlu dipertegas dalam konteks mengenal faham ahl al-Sunnah wa al-Jamaah Nahdlatul Wathan sehingga paham teologis tersebut tetap relevan dengan kondisi kekinian dan zamannya.
Pertama: salah satu ciri khas NW adalah Bersenandung lagu patriotisme. Lagu pembangkit semangat yang tidak banyak Tuan Guru yang mempopulerkan dan menjadikan sebagai media Pembelajaran dan media Dakwah. Terhitung Lebih dari 20-an Karya Maulanassyaikh dalam bentuk sajak dan syair.

E. KONTRIBUSI NW TERHADAP PENYEBARAN ISLAM NUSANTARA DI INDONESIA.

1. Nahdlatul Wathan dalam Perspektif Gerakan keagamaan (religious movement).
Pergerakan Sosial-keagamaan Pra-Kemerdekaan RI (1936-1945)
Membuka pesantren al-Mujahidin, 1934 M, pesantren al-Mujahidin awalnya adalah sebuah musalla yang didirikan oleh ayahnya, Tuan Guru Haji Abdul Madjid sebelum ia pulang ke Lombok. Sedianya mushalla ini akan dijadikan sebagai tempat mengajarkan agama seperti layaknya tuan guru-tuan guru pada umumnya saat itu.
Gerakan Perjuangan Kemerdekaan Gerakan al-Mujahidin.
Mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah (NWDI) 17 Agustus 1936 M Izin dari Pemerintah Belanda, pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 M/22 Agustus 1937 M (NWDI) diresmikan.Mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyyah (NBDI) 15 Rabi’ul Akhir 1362 H/ 21 April 1943 M.Pergerakan keagamaan NWDI menyebar ke seluruh wilayah Lombok sehingga dalam rentang waktu 1937-1945 telah berdiri sembilan buah cabang madrasah NWDI.
Gerakan dua madrasah tersebut membuktikan bahwa pergerakan tanah air dimulai dari pengkaderan di madrasah yang diorientasikan menjadi anjum nahdlatul wathan, bintang-bintang pejuang Nahdltul Wathan dan hasil dari kaderisasi tersebut terbukti dengan menyebarnya para alumni di seluruh pelosok desa yang kemudian bergerak di wilayah masing-masing sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat madarasah NWDI-NBDI tersebar di mana-mana.
2. Pergerakan Sosial-keagamaan Revolusi Kemerdekaan (1945-1949)
Perjalanan NWDI-NBDI dalam perjuangan mempertahankan eksistensi diri sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang sosial keagamaan sangatlah berat, di mana penjajahan Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia, maka konsekuensinya adalah seluruh kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh anak bangsa dipertaruhkan untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam konteks ini NWDI-NBDI dan seluruh jajarannya mengambil bagian untuk membela tanah air dan membela jati diri bangsa dan agama dari tangan penjajah.
Sejarah menceritakan bagaimana para murid-murid awal NWDI berjuang mati-matian membela tanah air demi mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih dengan tebusan jiwa dan raga. Pendiri NBDI-NWDI dan NW tampil kepermukaan untuk memimpin pertempuran melawan penjajahan yang ingin mempertahankan jajahannya di bumi pertiwi, sehingga tebusan untuk membela negara tersebut, adik kandung TGKH.M.Zainuddin AM menjadi saksi atas perjuangan mereka dalam konteks mempertahankan kemerdekaan, para syuhada’ yang merupakan penerus dan pelanjut NWDI antara lain, TGH. Muhammad Faishal AM, Sayyid Saleh dan Abdullah, menjadi saksi sejarah betapa berat dan kerasnya perjuangan Pendiri NWDI, NBDI, dan NW mempertahankan kedaulatan RI dari tangan penjajah.

3. Pergerakan Sosial-keagamaan pada Era Orde Lama (1949-1965).
NW sebagai sebuah organisasi Islam yang lahir di Bumi Selaparang, membuktikan dirinya sebagai organisasi yang tetap konsistent dalam prinsip dan responsif terhadap perkembangan zaman, maka NW selalu dapat menyesuaikan diri dengan era di mana NW itu berada. Keberadaan NW di Orde Baru, jelas terjadi pasang surut atau terjadi dinamika di dalamnya, tapi secara umum NW tetap eksis mempertahankan dirinya sebagai organisasi yang bergerak dalam ranah pendidikan, sosial dan dakwah, meskipun era orde lama, stabilitas politik dalam negeri masih kurang kondusif, tapi peluang itu bisa ditangkap oleh Pendiri NW ini untuk memanfaatkan sebaik mungkin guna mempertahankan eksistensi NW dan berikut perjuangannya dalam bidang sosial keagamaan.Tidak sedikit keberhasilan yang diraih oleh NW pada era ini dalam hal memajukan pendidikan, mensejahterakan rakyat melalui lembaga-lembaga sosial yang dibina oleh NW.
4. Pergerakan Sosial-Keagamaan pada era Orde Baru (1966-1998)
Peralihan orde lama ke orde baru sangat memberikan corak terhadap pergerakan organisasi Nahdlatul Wathan. Dengan bertambah usianya NW secara tidak lansung lebih matang dalam mengembang amanat umat dan lebih siap untuk berkonpetisi dengan organisasi-organisasi yang lain. Era Orde Baru bagi NW dapat dikatakan sebagai era yang paling banyak melahirkan lembaga-lembaga pendidikan, sosial, dakwah dan budaya, karena memang orde baru secara priodenisasi sangat lama sekitar 32 tahun. Yang pasti di era ini NW telah banyak memberikan sumbangan pembangunan untuk NTB dan Indonesia dalam segala bidang, baik bidang pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, pariwisata dan budaya.

5. Pergerakan Sosial-Keagamaan di Era Reformasi (1998-sekarang)
Kiprah NW tidak berhenti dengan meninggalnya pendiri NWDI,NBDI dan NW pada tahun 1997 M, tapi justru lebih berkembang karena dilanjutkan perjuangannya oleh para penerus-penerus beliau. Memang terjadi dualisme kepemimpinan di tubuh Organisasi ini, tapi jangan lihat aspek itu sebagai suatu yang negatif semata, tapi ada nilai kompetisi di dalamnya sehingga masing-masing berjuang dan berusaha keras untuk membangun NTB ini sesuai dengan bidang dan bakat keahlian masing-masing.
Dalam aspek Sosial-keagamaan, jelas terjadi gesekan-gesekan yang kurang kondusif di kalangan masyarakat, tapi seiring dengan perkembangan zaman lambat-laun kondisi tersebut sudah membaik dengan timbulnya kesadaran dari setiap warga NW dalam memilih afiliasi organisasinya.Tapi yang pasti adalah, NW dalam dualisme kepemimpinan ini mampu memberikan warna terhadap perkembangan pendidikan, sosial, politik, ekonomi, budaya di NTB ini, apalagi NW ini bersatu kembali takkan lebih besar andilnya dari sebelum-belumnya guna kemajuan dan pengembangan NTB menuju NTB Bersaing.

C. Nahdlatul Wathan Dalam Dimensi Gerakan Sosial- Keagamaan (Social And Religious Movement)
Nahdlatul Wathan memiliki peran penting di dalam mendorong terjadinya perubahan keagamaan masyarakat Islam, dari Islam Sinkretis seperti Wetu telu menuju Islam Paripurna (Islam Kaffah). Hal ini NW menempuh tiga mekanisme dakwah untuk bisa merubah pemahaman dan praktek keberagamaan masyarakat Islam NTB:
Pertama, Melalui Pendidikan Kemadrasahan dan Gerakan Kemasjidan
Gelar yang melekat pada pendiri NW dengan sebutan Abu al-Mâdaris wa al-Masâjid, Menunjukkan bahwa peran TGKH.Muhammad Zainuddin dalam membangun sarana ibadah di pelosok-pelosok kampung sangat besar. Sebab semangat keberagamaan masyarakat tidak akan terbina tanpa ada bimbingan dari para tokoh yang mereka jadikan sebagai panutan. Tercatat dalam agenda kerja TGH. M. Zainuddin bahwa masjid yang beliau bangun bersama masyarakat lebih dari seribu masjid yang beliau lansung meletakkan batu pertamanya. Ini artinya organisasi Nahdltul Wathan telah berkiprah dalam mengembangkan semangat keberagamaan melalui sentral kegiatan keagamaan dalam sebuah komunitas masyarakat yang lazim disebut masjid, di mana masjid sebagai icon suatu masyarakat dalam segala riualitas keagamaan bahkan sosial.
Kedua, pengajaran keagamaan dengan mengadakan dakwah keliling yang lazim disebut oleh warga NW dengan Majlis dakwah Hamzanwadi dan majlis ta’lim Nahdlatul Wathan. Majlis Dakwah Hamzanwadi yang lansung dibawah asuhan TGH M. Zainuddin AM, telah menyebar ke seluruh polosok Gumi Gora NTB, sehingga tidak sedikit di mana ada majlis dakwah Hamzanwadi di situ berdiri lembaga pendidikan dari tingkat yang paling dasar bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Sedangkan majlis ta’lim Nahdltul Wathan merupakan wahana kaderisasi yang dilakukan oleh seluruh abituren atau alumni NW yang secara keahlian telah mampu mengemban amanat organisasi NW yang secara spesifik telah dikader lansung oleh pendiri NW TGKH.M.Zainuddin AM. Dengan adanya dua majlis NW ini telah membuktikan dirinya sebagai sebuah organisasi yang sangat intent membangun sumber daya manusia yang siap membangun NTB khususnya dan Indonesia secara umum.
Ketiga, Gerakan Penyebaran Kader-kader NW ke seluruh Pelosok Nusantara.
Kaderisasi yang dilakukan oleh pendiri NW selama ini sangat efektif dan strategis, sebab kader yang diorientasikan menjadi Anjumi Nahdlatil Wathan, bintang-bintang pergerakan tanah air telah banyak berkiprah di pelosok nusantara ini. Kaderisasi utama yang dilakukan oleh pendiri NW ini adalah melalui pendidikan, khususnya Pendidikan yang dibina lansung oleh TGKH.Muhammad Zainuddin yaitu Ma’had Darul Qurt’an wa al-Hadist al-Majidiyyah Assyafiiyyah(MDQH) yang secara khusus mengadopsi sistem kuliah ala Madrasah as-Shaulatiyah Makkah al-Mukarramah. Dengan sistem ini dapat melahirkan ratusan alumni yang setiap tahun di lepas oleh Pendiri NW dan pelanjutnya, untuk disebar ke berbagai daerah. Sehingga dengan sistem ini NW telah berkembang di Jakarta, Sulawesi, Kalimantan, Pulau Jawa, Jaya Pura, dan lain-lain. Ini tidak terlepas dari peran alumni Ma’had yang telah dikader oleh Pendiri NW untuk menyebarkan misi Izzil Islam wa al-Muslimin.

E. Nahdlatul Wathan Dalam Ranah PembangunanSumber Daya Manusia (Human Resources Development)Melalui Gerakan Pesantren
Nahdlatul Wathan adalah sebuah organisasi yang berorientasi pada bidang pendidikan, sosial, dan dakwah islamiyah. Inti perjuangannya adalah berupaya mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Perjuangan ini menjadi sangat strategis, karena pembangunan di bidang SDM dapat terefleksi dalam bidang-bidang pembangunan lainnya. Artinya, Kesuksesan di bidang-bidang pembangunan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia.
Sebagai gambaran awal peran NWDI-NBDI yang disebut oleh pendirinya, Dwi Tunggal Pantang Tanggal, dalam mencetak SDM yang kemudian hari nanti menjadi motor penggerak pembangunan sosial keagamaan di Indonesia. Out put dari madrasah NWDI pada priode awal menjadi pelanjut dan pengembang dari visi, misi dan perjuangan pendiri NWDI-NBDI yang nantinya dua madrasah tersebut menjadi embrio lahirnya Organisasi Nahdlatul Wathan.
Untuk sekedar menyebut tokoh-tokoh agama yang telah berkiprah banyak dalam pembangunan di NTB bahkan di kancah Nasional yang merupakan produk madrasah paling awal di NTB ini.
Secara priodenisasi dari tahun ketahun, TGKH M.Zainuddin Abd Majid memberikan peranan penting dalam mencetak tokoh-tokoh pendiri pondok pesantren di Lombok NTB sebagai berikut:
Murid-murid beliau pada angkatan pertama dari NWDI tahun 1934-an antara lain TGH. Mu’thi Musthafa pendiri pondok pesantren al-Mujahidin Manben Lauq Lombok Timur, Ust Mas’ud Kelayu, Abu Mu’minin.Sedangkan angkatan kedua sekitar tahun 1939-1945-an yang terkenal antara lain TGH. Najamudin Ma’mun Pendiri pondok pesantren Darul Muhajirin Praya, TGH. L. Muhammad Faisal, Pimpinan Ponpes Manhalul Ulum Praya, di mana secara khusus Tuan Guru Faishal direstui oleh TGH.Muhammad Zainuddin AM sebagai ketua NU di Lombok, Muhaddits Abdul Haris, Rais, Amrillah, Salim, Abdurrahman, Nursam, Abdul Samad, kemudian alumni-alumni ini mendirikan madrasah pertama di Praya, madrasah Nurul Yakin, pada tahun 1943, di mana pengelolanya dipimpin oleh TGH.Muadz Abdul Halim dan Pembinanya TGH.Najamuddin Makmun, berikutnya Raden Tuan Sakra Pendiri pondok pesantren Nurul Islam Sakra, Ust Yusi Muhsin dan angkatan ketiga sekitar tahun 1946-1949-an TGH. Dahmuruddin Pengasuh ponpes Darunnahdlatain Pancor, TGH. Saleh Yahya Kemudian disusul pada angkatan berikutnya sekitar 1950-1955 Yaitu Syeikh M Adnan kini menjadi syeikh di Madrasah al-Shaulatiyyah Makkah al-Mukarramah dan bermukim di sana, TGH. L.M.Faishal Pendiri pondok pesantren Manhal al-Ulum, Praya, dan satu-satunya murid beliau yang diberi tugas dan amanat untuk menjadi pengurus Nahdlatul Ulama (NU), sehingga NU masuk ke-Lombok tidak terlepas dari peranan TGKH. M.Zainiddin AM, dan TGH. Zainal Abidin Ali, pendiri pondok pesantren Manbaul Bayan Sakra Lombok Timur.
Adapun murid-murid angkatan kelima sekitar tahun 1955-1960-an terkenal pada era ini adalah TGH. Afifuddin Adnan pendiri pondok pesantren al-Mukhtariyah Mamben, TGH. M.Zainuddin Mansyur, MA. TGH. Zaini Pademare, TGH. Zainal Abidin Ali Sakra Pendiri ponpes Manbaul Bayan Sakra. Sedangkan angkatan keenam sekitar tahun 1960-65-an TGH. L. M Yusuf Hasyim,Lc pendiri ponpes Dar al-Nahdhoh NW Korleko Lombok Timur, TGH. A.Syakaki, Pendiri ponpes Islahul Mu’minin Kapek Lombok Barat,TGH. M.Salehuddin Ahmad, pendiri ponpes Darusshalihin NW Kalijaga, TGH. Ahmad Muaz, pendiri ponpes Nurul Yakin Praya, TGH. Juaini Mukhtar pendiri ponpes Nurul Haramain NW Narmada, TGH. Musthafa Umar pendiri ponpes al-Aziziyah Kapek Pemenang dan lain-lain.
Peningkatan pengembangan pondok pesantren banyak yang lahir dari angkatan terakhir priodenisasi pengkaderan TGKH M Zainuddin Abd Majid dan sekaligus kader-kader ini dijadikan sebagai asisten beliau dalam banyak kegiatan keagamaan sekaligus sebagai penerus pasca meninggalnya Syeikh Zainuddin pada tahun 1997 antara lain, TGH. Mustamiudin pendiri ponpes Suralaga, TGH. Habib Thanthawi, pendiri ponpes Dar al-Habibi NW Bunut Baok Praya, TGH. Mahmud Yasin, Pendiri ponpes Islahul Ummah NW Lendang Kekah Mantang, TGH. M.Ruslan Zain An Nahdli pendiri ponpes Darul Kamal NW Kembang Kerang, Lombok Timur, TGH. M. Zahid Syarif pendiri ponpes Hikmatussyarif NW Salut Narmada, TGH. Tajuddin Ahmad pendiri ponpes Darunnajihin Bageknyale Rensing, TGH. L. Anas Hasyri pendiri ponpes Darul Abror NW Gunung Raja’ Rensing, TGH. M.Yusuf Ma’mun pendiri ponpes Birrul Walidain, TGH. M. Helmi Najamuddin pendiri ponpes Raudlatutthalibin Pao’Motong Masbagik, TGH. Khaeruddin Ahmad, Lc., pendiri ponpes Unwanul Falah Pao’ Lombok dan ratusan pondok pesantren yang tersebar di pulau Lombok didirikan oleh alumnus-alumnus pondok pesantern Darun Nahdlathain NW Pancor di bawah bimbingan TGKH M. Zainuddin Abd Majid (w. thn 1997 M) dalam usia 102 tahun dalam hitungan Hijriyah dan 98 tahun dalam hitungan masehi
Rintisan TGKH M.Zainuddin AM dengan orientasi baru, muncul TGH. Musthafa Khalidi dan TGH.Ibrahim Khalidi, dua bersaudara mendirikan Pondok Pesantren Al-Islahuddiny Kediri Lombok Barat sekitar Tahun 1940-an, pesantren inilah yang kemudian mengembangkan sistem kepesantrenan ke arah yang tradisonal menuju sistem klasikal, seperti yang pertama kali dirintis oleh TGH.M.Zainuddin AM Pancor Lombok Timur. Pondok pesantren ini merupakan pesantren pertama yang mengadopsi sistem klasikal dalam pengajarannya di kawasan Lombok Barat, baru disusul oleh pesantren-pesantren berikutnya.
Ini artinya, kontribusi organisasi Nahdlatul Wathan di bawah komando TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid telah secara lansung memberikan peran yang sangat penting dalam pembangunan sumber daya manusia NTB yang tidak sedikit dari alumni-alumni NW telah berkiprah banyak dalam pembangunan bangsa dan negara.
Hal ini harus dilihat secara objektif bahwa peran TGH.M. Zainuddin AM sebagai motor penggerak kemajuan dan perkembangan sosial keagamaan di NTB ini.
Gerakan pondok pesantren dalam mengembangkan semangat sosial keberagamaan di NTB tercermin dalam banyaknya pondok pesantren NW yang berkiprah bukan saja pada aspek pendidikan saja tapi bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya. Data pondok pesantren yang ada di Lombok NTB dengan komposisi, Pondok Pesantren di Kota Mataram berjumlah, 50 buah, Lombok Barat, 80 buah, Lombok Tengah 90 buah, Lombok Timur 170 buah. Secara kuantitatif pondok pesantren tersebut berafiliasi ke organisasi Nahdlatul Wathan. Ini artinya separuh dari lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga sosial keagamaan di NTB didominasi oleh Organisasi NW yang secara otomatis lembaga tersebut berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan, sosial dan kemasyarakatan di NTB.

F. Kontribusi Nahdlatul Wathan terhadap Pengembangan Islam Nusantara

Maqasid sebuah pendekatan Islam Nusantara. Logika hukum formal klasik selalu dijadikan sebagai penghambat dinamika intelektual. Sunggu sebuah pandangan yang patut digugat. Karya klasik sekaliber al-Ghazali, al-razi dan lainnya telah meletakkan basis fundamental penguatan pemikiran Islam yang akomudatif. Hanya dan mungkin sikap kritis menelisikkan kemudian dijebloskan ke ruang kosong. Karenanya paradigma pemikiran Islam Klasik layak dijadikan basis akademis yang akan memperkokoh pemikiran toleran dalam maknanya yang parsial dan tugas akademisi untuk melanjutkan dalam makna yang universal. Universalitas simbol aktual Islam Nusantara.
Fiqh Tradisional perekat yang terlupakan, Melalang buana pencarian epistemik ternyata tidak membuat sang hujjatul Islam puas. Kesadaran pun mulai tumbuh untuk kembali kepangkuan fiqh tradisional. Logika hukum yang dibangunnya tidak membuatnya dia puas. Pendekatan nalar manthiqi mengoyak-oyak pikiran, teologi membuatnya mulai mengalami kegersangan akademis spritualis. Akhirnya lembaran fiqh tradisional dengan argumen spritual membawanya kepada kedamaian epistemik. (mutawalli).
Logika zaman dan fiqh lokal semestinya dipadukan karena simbul lokal selalu dijadikan anak tiri dan bahkan dimarjinalkan. Padahal Lokal adalah sumber utama pembangunan global. Jadi sumber murni pengembangan fiqh adalah realitas lokalistik (al-Tsâbit bi al-urfi ka al-tsâbit bi al-nasshy).
Islam Nusantara: Paradigma membangun syurgawi.
Yang pasti, Bahwa surga keberadaannya bersifat teologis. Karenanya pandangan empiris sulit untuk dijadikan argumen. Surga mengekspresikan sebuah keindahan dalam tampakan kehidupan. Ia menyimpulkan kesejahteraan. Kesejahteraan yang berdimensi material maupun spritual. Namun dimensi material mudah dibantah, karena pada faktanya material tidak menjamin terimplementasinya keindahan dan kesejahteraan. Maka dimensi spritual,mungkin memiliki jaminan untuk kesejahteraan. Sebuah contoh, seorang tokoh dengan pendekatan spritual ketika hendak membangun sebuah bangunan tempat ibadah, tiba-tiba dilarang oleh tokoh yang berparadigma formal karena menganggap bangunan itu tidak sesuai dengan kajian formal. Ketika sang tokoh dilarang, dia menjawab kalau memang tidak boleh, ya kami tidak bangun. Pertanyaannya apakah sang tokoh spritual tersebut tidak mampu memberikan argumen? tentu tidak karena dia memiliki kemampuan yang sama. Lalu mengapa tidak meneruskan pembangunannya? Dia menjawab bahwa keindahan hidup damai adalah lebih indah dari sekedar adu argumentasi yang kemungkinan bisa membawa klaim kebenaran yang mungkin saja tidak benar. Itulah Islam Nusantara sebuah pandangan yang menghargai perbedaan tanpa harus menguras energi pada masalah furu’iyyah. Islam Nusantara akan lebih enjoy melantunkan nafas-nafas akademisnya karena hadir dalam bingkai keragaman yang memang sudah menjadi sunnatullah.
Paradigma Fiqh dan kalam klasik tetap menjadi basis paradigmatiknya Islam Nusantara, hanya tidak bisa lagi mempertahankan hegomoni dan sikap statisnya. karena kalau statis maka akan digilas oleh sains modern dan klaim profetik Islam sebagai shalihun li kulli zamaanin wa makaanin padahal nalar waqoiy (Nalar empiris) tidak tunggal.

EPILOG.

Sebagai sebuah organisasi, Nahdlatul Wathan telah mengambil peran yang sangat besar terhadap pengembangan kualitas ummat di Indonesia, baik kualitas spiritual, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, dan politik. Bahkan Nahdltul Wathan tidak hanya menjadi lokomotif bagi perkembangan ummat, tetapi juga menjadi perekat sosial dalam keragaman masyarakat NTB khususnya dan masyarakat Indonesia secara nasional.Kesuksesan NW dalam pembangunan sosial keagamaan dan peradaban Islam Indonesia tidak terlepas dari modal sosial (social capital) yang dimiliki oleh organisasi Nahdlatul Wathan.
Pertama, Norma dasar yang dimiliki oleh organisasi NW dan warganya yaitu Iman dan Taqwa, yang tercermin pada pokoknya NW, Pokoknya NW Iman dan Taqwa.
Kedua, adanya hubungan dan kerjasama yang kuat baik secara internal dengan warga NW, maupun secara eksternal dengan institusi pemerintah, swasta, lembaga pendidikan, dan lembaga sosial keagamaan lainnya.
Ketiga, kuatnya rasa kebersamaan warga Nahdlatul Wathan yang terbentuk secara alamiah melalui ritual dan kegiatan-kegiatan Nahdlatul Wathan.
Nahdlatul Wathan sebagai organisasi yang bergerak dalam ranah sosial keagamaan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembaharuan sistem keagamaan di NTB khususnya di Indonesia umumnya.

DAFTAR PUSTAKA:

Abdul Mun’im DZ, Islam Nusantara: Antara Harapan Prasangka dan Harapan yang Tersisa, Samarinda: AICIS Kementerian Agama RI, 2014)
Abdul Hayyi Nu’man dan Sahafari Ays’ari, Nahdlatul Wathan: Organisasi Pendidikan, Sosial, dan Dakwah, Lombok: Toko Buku Kita, 1988, Cet. 1, h. 91
Ahmad Sahal dan Munawir Aziz, Eds, Islam Nusantara dari Ushul Fiqh hingga Konsep Historis, Bandung: Mizan, Cet. III, 2016.
http://goegle weblight.com.
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad ke XVII & XVIII, (Bandung: Mizan, 1994).Cet. 3.
Abdurrahman Mas’ud, Dari Haramain Ke Nusantara: Jejak Intelektual Arsitek Pesantren, (Jakarta: Kencana Prenada Group, 2006), Cet. 1. h. 20-21.
Ahmad Abd. Syakur, Islam dan Kebudayaan: Akulturasi Nilai-nilai Islam dalam Budaya Sasak, (Yogyakarta: Adab Press, 2006), cet.1.
Ahmad Baso: Islam Nusantara: Jejak, : 2015,
Al-Syekh Abd al-Karim ibn Ibrahim al-Jaeliy, Insān al-Kāmil fi Ma’rifat Awāliri wa al-Awā’il,jilid II (Mesir: Syarikah Matba’ah Mustafa- Babil Halabi wa Alādih, 1375 H).
Ahmad Najib Burhani, Sufisme Kota, ( Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001).
Alwi Shihab, Islam Sufistik: Islam Pertama dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia, (Bandung: Mizan 2001).
Fahrurrozi Dahlan, Sosiologi Pesantren, Jakarta: Sanabil Press, 2017)
Fahrurrozi, Budaya Pesantren di Pulau Seribu Masjid, Lombok, STAIN Pemekasan, Jurnal Karsa, Jurnal Terakreditasi BAN-PT, Vol. 23. Desember 2015, h. 198.
Fahrurrozi Dahlan, Tuan Guru: Eksistensi Peran dalam Transformasi Masyarakat, (Jakarta: Sanabil Press, 2016), Cet. 1. h. 257
Fahrurrozi Dahlan, Paradigma Dakwah Sosiologis untuk Keberagaman Islam Indonesia, (Mataram: LEPPIM IAIN Mataram, 2014). cet. 1.
Muhammad Nazir Karim, Dialektika Teologi Islam, (Bandung: Nuansa, 2004).
Muhammad Noor dkk,Visi Kebangsaan Religius Refleksi Pemikiran Dan Perjuangan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997:, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2004).
Muslihan Habib dan Mursyidin Zuhdi, Hizib dan Thariqat Hizib Nahdlatul Wathan, (Jakarta: PT. Sinar Lima Global Pondok Pesantren NW Jakarta, 2012).
Ibn al-Arabi, Futuhat Al- Makiyyah, 4 Vol. (Kairo: Dar Al-Kutb Al-Arabiyyah Al-Kubra 1329/1911, Dicetak Ulang di Beirut: Dar Al-Fikr, t.th).
Ibnu Hazm, Al-Fishal Fi Al-Milal Wa Al-Nihal, (Beirut: Dar Al-Jayl, t.th) Jld II.
Syaikh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani, Metode Bertemu Nabi SAW, Terj. Alwi Sahid, (Yogyakarta: AR-Ruz Media Group, 2008).
Syaikh Yusuf Ibn Ismail al-Nabhani, Jami’ Karamat Al-Awliya, Jilid 1 (Lebanon: Dar al-Fikr, 1414 H/1993 M).
TGKH.Muhammad Zainuddin AM, Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru, Pancor: Toko Buku Kita, ttp, W. No. 39. h. 34
TGH. Abdul Hayyi Nu’man, Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah: Anutan Organisasi Nahdlatul Wathan, (Anjani: Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, 2001).
John Ryan Bartholomen, Alif Lam Mim: Reconciling Islam, Modernity and Tradition in an Indonesian Kampung, 1999, cet.1. dalam edisi bahasa Indonesianya; Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2001), cet. 1.

Share this post