EKSPRESI KEBERAGAMAAN MASYARAKAT ISLAM INDONESIA

EKSPRESI KEBERAGAMAAN MASYARAKAT ISLAM INDONESIA

MOZAIK MULTIKULTURALISME INDONESIA BAGIAN I

oleh : Prof. Dr. fahrurrozi Dahlan MA

Dosen Universatas Islam Negeri Mataram

Gerakan keislaman atau kebangkitan Islam dimulai sejak Islam bersentuhan dengan Barat melalui kolonialisasi dan imperialisasi wilayah kekuasaan Islam (Amstrong, 2003: 169-192), dan ini merupakan awal dari abad modern di dunia Islam, atau dalam pandangan Harun Nasution (1995: 88) merupakan masa    ke bangkitan    Islam.    Islam dihadapkan dengan kondisi zaman yang begitu progresif, berada di luar bayangan umat Islam sebelumnya, Barat datang deng an seperangkat temuan-temuan cang gih  dalam  bentuk  sains  dan teknologi, sistem sosial yang begitu apik, semuanya merupakan cermin atau ciri dari modernisme yang berkembang di Barat.

Napoleon Banoparte (1798-1801) yang datang ke Mesir misalnya datang dengan segenap perangkat modernisme, seperti disertakannya para ilmuwan, perpustakaan, literatur Eropa modern, laboratorium ilmiah, serta alat-cetak dengan huruf Latin, Yunani, dan Arab (Harun Nasution, 1995: 95).

Dari kondisi ini maka dimulailah apa yang   dinamakan   deng an   g erakan kebangkitan Islam, yang dalam pandangan Fazlur Rahman (2001: 316) melihat bahwa respons Islam terhadap Barat justru melahirkan Muslim modernis dalam pandangan yang modernis pula. Terkait dengan ini maka tokoh-tokoh yang lahir adalah mereka yang telah berinteraksi dengan budaya luar, terutama budaya pemikiran dan pendidikan Barat, sehing ga pandangan keislaman yang mereka ajukan lebih kontekstual dan demokratis.Dalam pandangan mereka transformasi budaya modern Barat yang progresif ke wilayah Islam sudah tidak terbendung, dan agar Islam relevan dengan kondisi zaman yang dihadapi maka harus ada reinterpretasi ulang yang lebih edukatif, kontekstual, progresif dan akomodatif,  a tau  r ethinking  Islam (Arkoun, 2001: 6). Rethinking Islam yang ditawarkan    Mohammed    Ar koun bertujuan untuk menggunakan nalar kritis bebas rasional untuk mengelaborasi sebuah  visi  bar u  dan  koheren  yang mengintegrasikan kondisi bar u yang dihadapi umat dengan unsur-unsur tradisi muslim yang masih ada, atau integrasi antara kemajuan budaya modern Barat dengan khazanah-khazanah keilmuan Islam.1  Maka dalam bahasa Islam upaya tersebut dinamakan ijtihad yang kontinyu dan intensif dalam segala aspek, baik fiqh, kalam, dan sebagainya.

Azyumardi Azra (1996: iv-vi) juga melihat respons umat Islam terhadap moder nisme dan modernisasi Barat dilakukan dengan tiga bentuk; pertama, apologetik, kedua, identifikatif, dan ketiga, afir matif. Secara garis besar, sebagai sebuah dampak dari kehadiran bangsa Barat di dunia Islam telah melahirkan tiga kelompok Islam yang berskala luas di seluruh belahan dunia Islam, yakni, Islam revivalisme, Islam reformis, dan Islam fundamentalisme (Lawrence, 2004: 59).

Kehadiran Ag ama dan Ekspresi Keberagamaan

Agama hadir dalam diri manusia sepanjang sejarah eksistensinya di muka bumi, agama juga hadir berdasarkan kebutuhan yang amat manusiawi, paling tidak dari segi emosional manusia itu sendiri (Azyumardi Azra, 1985: 10). Atas sifatnya yang sejalan dengan sifat-sifat manusia inilah kemudian agama diyakini dan dijadikan sebagai landasan hidup worldview, karena agama dalam posisinya yang sakral dianggap sebagai blue print Tuhan  y ang  difor mulasikan  untuk selanjutnya dijadikan r ujukan untuk Gerakan pembaharuan ini dimulai sejak Islam bersentuhan dengan dunia Barat melalui kolonialisasi dan imperialisasi wilayah kekuasaan Islam, dan ini merupakan awal dari abad modern di dunia Islam (Armstrong,  2003: 169-192).

menyelesaikan seg ala per masalahan hidup (M. Quraish Shihab, 1998: 209). Dalam konteks yang demikian, agama sejatinya diturunkan dan dianut oleh masyarakat dikarenakan memiliki sebab dan tujuan-tujuan tertentu, dan yang paling fundamen dari sebab dan tujuan tersebut adalah harapan tempat menyandarkan kedamaian, kebaikan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Agama juga telah dijadikan sebagai ideologi dalam menciptakan dan menggerakkan spirit motivasional bagi manusia sebagai bentuk  meng aktualisasi  diri  dalam kehidupan,2    dan  seba g ai  g er akan revolusioner untuk pembebasan diri dari tirani, hegemoni, dan ketidakadilan sosial politik, budaya serta ekonomi (Fachry Ali,1985: 20). Atas dasar sifat dan fungsi agama yang demikianlah masyarakat memeluk agama, di samping karena beragama atau bertuhan sudah menjadi fitrah manusia.

Deng an karakteristik dan peran agama yang demikian, tidak heran jika terdapat pandangan yang mengatakan bahwa  jika  kita  mau  meng etahui peradaban dunia atau suatu kelompok masyarakat dan negara, maka yang harus dibuka adalah pintu jendela ag ama. Dalam pandangan yang demikian maka kesimpulannya adalah, bahwa peradaban terbentuk berdasarkan keyakinan dan nilai religiusitas masyarakat, sehingga

mempelajari kebudayaan atau peradaban tidak akan mencapai hasil maksimal jika penelitian tentang agama diabaikan. Dalam teori budaya yang dikembangkan Clifford Geertz terlihat bahwa agama menjadi fondasi bagi terbentuknya suatu kultur dan tradisi dalam masyarakat, yakni manifestasi agama dalam budaya. Jika dilihat dari fakta historis berupa data-data ar keologis,   kar ya-kar ya   seni   dan bangunan-bangunan sejarah, maka teori tersebut terbukti deng an sendirinya sebagai sebuah kebenaran sosial-kultural dan historis, seperti bangunan-bangunan candi yang masih berdiri kokoh di Jawa, s e per ti   candi   Bor obudur,   candi Prambanan, candi Loro Jonggrang, dan sebagainya. Dalam konteks Indonesia, semua itu merefleksikan kuatnya agama dalam kehidupan masyarakat Jawa, dan candi merupakan simbol dari peradaban yang dibangun di atas fondasi agama, yakni Hindu dan Budha. Jika kita melangkah ke wilayah dunia lain juga akan ditemukan bukti-bukti historis yang sama, seperti Masjid Tajmahal di India, Piramida di Mesir, dan sebagaianya. Semua itu meref leksikan   seb uah   perada ban keyakinan manusia atas agamanya.————-> Bersambung

 

Share this post